Training GIS Tingkat Lanjut
Mobile GIS Training
Training Remote Sensing
AGDC
SIM-C,BRR
BAKOSURTANAL
ADB ETESP-24
BGR
CARE
Conservation International
ESP-USAID
Flora-Fauna International (FFI Aceh)
GTZ,SLGSR
UN-Habitat
IFRC
Mercy Corps
RS-GIS Centre, UNSYIAH
Yayasan Leuser Indonesia (YLI)
DED
Aceh Geo Data Centre (AGDC)
Dibawah naungan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) yang berperan untuk koordinasi perencanaan pembangunan di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan melanjutkan tugas Spatial Information and Mapping Centre (SIM-Centre, BRR) dalam pengelolaan dan sharing data untuk rehabilitasi dan rekonstruksi, AGDC dibentuk untuk mendukung pemanfaatan dan sharing informasi spasial antar berbagai institusi baik pemerintah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat dari dalam maupun luar negeri yang turut serta dalam proses pembangunan di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam hal ini AGDC berperan untuk pemeliharaan, penyimpanan, pengelolaan dan pendistribusian data spasial di NAD.
Spatial Information and Mapping-Centre (SIM-Centre, BRR)
SIM-Centre memulai kegiatan dalam mensupport BRR pada Febuari 2006 dengan dukungan dari PBB dan sebagian besar dana operasional didanai oleh BRR & pemerintahan Norwegia. Dalam pelaksanaannya tugasnya SIM-Centre memiliki dua tujuan utama:
1. Untuk membangun keberlanjutan informasi spasial dan kapasitas GIS didalam BRR, memastikan data yang tersedia untuk mendukung aktifitas pemulihan dan rekonstruksi oleh BRR dan komunitas pemulihan lainnya.
2. Untuk meningkatkan kapasitas kantor pemerintahan tingkat provinsi dalam menggunakan informasi spasial untuk mendukung pengambilan keputusan, perencanaan dan kegiatan rutin untuk memfasilitasi proses transisi dari BRR di kemudian hari.
Dalam waktu setahun kegiatan operasional SIM-Centre telah mendapatkan penghargaan “Special Achievement in GIS Awards” yang diberikan oleh ESRI pada ESRI User Conference, Juni 2007 di San Diego, California, USA dan penghargaan 2007 Highly Commended yang diberikan oleh Western Australian Spatial Excellence Awards untuk pelayanan informasi spasial.
BAKOSURTANAL
Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang survei dan pemetaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Program kerja dan kegiatan dilaksanakan untuk mencapai visi BAKOSURTANAL yaitu "Menyediakan infrastruktur data spasial sebagai dasar bagi pengembangan data dan informasi sumber daya alam dan lingkungan".
ADB ETESP-24
ETESP paket 24 adalah Bagian dari rangkaian paket bantuan ADB untuk mendukung BRR dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi gempa bumi dan tsunami. Menyediakan Perencanaan Tata Ruang dan Pengelolaan Lingkungan (SPEM) yang terkena dampak bencana di sepanjang pantai barat Aceh,termasuk Simeulue dan Nias. Tujuan program ETESP-24 adalah menghasilkan kerangka tata ruang dan action plan pada 28 kecamatan di kabupaten Aceh Selatan, Simeulue dan Nias.
BGR
Badan Geoscience dan Sumber Daya Alam (BGR) adalah badan yang menangani masalah geoscientific yang memiliki kewenangan untuk memberikan nasehat kepada pemerintahan German mengenai segala masalah yang berkaitan dengan kebumian. Sejak July 2005, BGR bekerjasama dengan Direktorat Geologi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia dan Dinas Pertambangan dan Energi, NAD dalam proyek bersama MangeoNAD (Manajemen Resiko Bencana Alam di Nanggroe Aceh Darussalam). Kegiatan ini menyediakan informasi kebumian dengan dan terpusat pada informasi yang bersifat geologikal. Tujuannnya untuk mengimplementasi informasi ini pada proses penataan ruang di level regional maupun lokal untuk mengurangi resiko bencana.
CARE
Program CARE di Aceh berupa Program Tanggap Tsunami CARE yang bekerja sama dengan rakyat Aceh untuk membangun kembali rumah, sistem perawatan kesehatan, fasilitas air bersih dan sanitasi, mata pencaharian, dan infrastruktur. Sejak program dimulai pada Desember 2004, CARE telah menyediakan bantuan untuk lebih dari 350.000 korban tsunami. CARE telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1967.
Conservation International
Berdiri tahun 1987, Conservation International (CI) merupakan organisasi nir-laba yang berkarya di lebih dari 40 negara dan empat benua. CI mulai aktif menjalankan program konservasi di Indonesia sejak tahun 1994 dan pelaksanaan kegiatan difokuskan di beberapa lokasi diantaranya Sumatera bagian utara, Siberut, Gunung Gede Pangrango, Kepulauan Raja Ampat dan Mamberamo di Papua. CI Indonesia juga mengambil peran penting dalam upaya-upaya pemulihan infrastruktur dan lingkungan pasca tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dengan mengusahakan kayu dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan rekonstruksi pasca tsunami melalui program Timber for Aceh (TFA) bekerja sama dengan WWF Indonesia. Saat ini CI Indonesia di NAD sedang melaksanakan program rehabilitasi mangrove di Banda Aceh dan kegiatan illegal logging monitoring dengan menggunakan teknologi GIS dan remote sensing di Taman Nasional Gunung Leuser.
ESP-USAID
Environmental Services Program (ESP) adalah program lima tahun yang dikembangkan oleh USAID/Indonesia untuk memperbaiki keberlanjutan manajemen sumber air. Berkaitan dengan desentralisasi tanggung jawab pemerintahan di Indonesia beberapa tahun belakang, program ESP berkembang sebagai bagian strategi Negara Indonesia tahun 2004-2008 untuk memperkuat Indonesia menuju negara yang moderat, stabil dan produktif. Program ESP memberikan bantuan teknis dan layanan yang berkaitan khususnya pada peningkatan kualitas pemanfaatan pelayanan masyarakat, terutama pada kebutuhan akan kesehatan, lingkungan serta dampaknya pada kesehatan.
Flora-Fauna International (FFI Aceh)
Flora Fauna Internasional telah melakukan kegiatan di Aceh sejak 1998, bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Pemerintah Provinsi/Kabupaten, Pemuka Adat dan masyarakat. Tujuan FFI di Aceh untuk melindungi daerah hutan primer dan memastikan adanya program konservasi jangka panjang atas keanekaragaman flora dan fauna yang ada di dalamnya. Tujuan jangka panjang FFI di Aceh adalah lestarinya keanekaragaman fauna dan flora Sumatra yang berada di Aceh dengan memastikan pengelolaan yang berkelanjutan di wilayah hutan Ulu Masen. Untuk mencapai tujuan ini FFI merancang aktifitas pendukung melalui: monitoring dan proteksi, perencanaan tata ruang, mata pencaharian berkelanjutan, pendidikan dan panyadartahuan dan kelautan (rehabilitasi ekosistem tepi pantai di Aceh).
GTZ-SLGSR (GTZ supported project SLGSR (Support for Local Government for Sustainable Reconstruction)
Saat ini SLGSR memiliki kerjasama dengan Program Perumahan dan Rekonstruksi Pemukiman dari Bank Pembangunan Jerman (Kfw) untuk pengembangan dan penerapan proyek infrastruktur air bersih dan sanitasi. Terkait dengan dukungan teknis dan keahlian lembaga/dinas pemerintahan, SLGSR telah memberikan dukungan berupa pendirian Pusat Sistem Informasi Geografis (GIS Center) pada Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie dan Kota Banda Aceh yang bertempat di Kantor Bappeda masing-masing Kabupaten/Kota dan juga serangkaian kegiatan pelatihan GIS kepada staff pemerintah atas dasar permintaan dari Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah kerja SLGSR. Bersama BRR, SLGSR juga memberikan dukungan terhadap berdirinya Aceh Geospasial Data Center (AGDC) di Bappeda Provinsi NAD.
UN-Habitat
UN-Habitat adalah badan yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertanggung jawab dalam pembangunan tempat tinggal serta rehabilitasi dan rekonstruksi setelah bencana. UN-Habitat telah memngembangkan program bersama pemerintah Indonesia, Aceh Settelement Support Programme (ASSP), untuk mendukung program tanggap darurat dan tahapan pembangunan di Aceh yang dijalankan United Nations Development Programme’s (UNDP). Program ini menangani masalah perumahan, tata ruang, dan segala masalah-masalah infrastuktur dalam proses rekonstruksi.
IFRC
The International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC atau Federasi) adalah organisasi humanitarian terbesar di dunia, yang memberikan bantuan tanpa diskriminasi terhadap kewarganegaraan, ras, agama, kelas maupun opini politik tertentu. Visi Federasi adalah berupaya, melalui aksi sukarela, mewujudkan dunia dengan masyarakat yg berdaya, mampu mengatasi derita dan krisis kemanusiaan dengan lebih baik dan penuh harapan, menghormati harga diri dan kesetaraan. Misi federasi adalah meningkatkan kehidupan masyarakat yang rentan dengan jalan memobilisasi kekuatan kemanusiaan. Federasi menjalankan operasi untuk membantu korban bencana alam, bersamaan dengan pembangunan, untuk memperkuat kapasitas anggota Palang Merah Nasional, dan memfokuskan diri pada empat area: mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, respon terhadap bencana, persiapan menghadapi bencana, dan pelayanan kesehatan komunitas. Respon terhadap bencana tetap dilanjutkan sebagai porsi terbesar pekerjaan Federasi, dengan bantuan kepada lebih dari 30 juta orang setiap tahunnya, dari mulai pengungsi sampai korban bencana alam, berikut Emergency Response Unit (Satuan Penanggulangan Bencana) dan berbagai isu yang berkaitan dengan kebijakan humanitarian sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas respon serta rehabilitasi jangka panjang. Peningkatan yang tinggi dari bencana alam belakangan ini telah membuat Federasi memberikan perhatian lebih pada aktivitas persiapan menghadapi bencana.
Mercy Corps
Mercy Corps adalah organisasi bantuan dan pembangunan internasional yang memberi perhatian untuk meredakan penderitaan, mengurangi kemiskinan dan memperbaiki kondisi kehidupan penduduk yang lemah di masa krisis. Mercy corps telah bekerja di Aceh sejak January 2005 setelah Tsunami menghantam Asia pada Desember 2004. Sudah banyak program yang dijalankan, seperti pertanian, kelautan, perikanan, seni dan budaya, jalan dan jembatan, kesehatan, penyediaan sumber kehidupan, agama, kehutanan dan MFI yang difokuskan di kabupaten Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat dan Nagan Raya.
RS-GIS Centre, UNSYIAH
Merupakan pusat pengolahan remote sensing dan pemetaan dibawah rektorat UNSYIAH. Bekerja sama dengan JICA telah membuat peta digital untuk Banda Aceh paska Tsunami dengan skala 1:2000.
Yayasan Leuser Indonesia (YLI)
Leuser Indonesia Foundation melalui AFEP (Aceh Forest and Environment Project) telah memetakan forest cover 2005/2006 di Kawasan Ekosistem Leuser. Land use land cover (LULC) 2005/2006 telah selesai 5 kabupaten di NAD. Sedangkan Flora Fauna Indonesia telah memetakan forest cover Kawasan Ekosistem Ulumasen.
DED
DED adalah salah satu badan pengembangan di Eropa yang memegang peranan penting dalam kerjasama perorangan. Sejak didirikan pada 1963, lebih dari 15.000 konsultannya telah berkomitmen untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Hingga saat ini 1000 konsultan telah bekerja di 46 negara. Tujuannya adalah untuk memerangi kemiskinan, peningkatan taraf diri, mendukung pembangunan berkelanjutan dan melingungi sumber daya alam. DED juga menawarkan layanannya untuk klien internasional.



